Jakarta - Teka-teki sosok calon wakil gubernur DKI terjawab
sudah. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengaku telah
mendapat restu untuk bersanding dengan kader PDIP yang juga mantan
Walikota Blitar Djarot Saiful Hidayat. Lampu hijau itu ia dapatkan dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.
"Ibu Mega menyetujui Pak Djarot (cawagub DKI)," ucap pria yang akrab disapa Ahok itu di Balaikota Jakarta.
Persetujuan itu dibuktikan dengan sebuah amplop coklat.
Ketua DPD PDIP DKI Jakarta Boy Sadikin yang sebelumnya digadang-gadang
menjadi pendamping Ahok memboyong amplop tersebut untuk disampaikan
kepada Ahok. Dalam amplop, terselip surat resmi dari DPP PDIP atas pencalonan Djarot sebagai cawagub tunggal dari PDIP.
"Saya
diperintahkan menyampaikan surat usulan dari partai yang mengajukan Pak
Djarot sebagai wakil gubernur. Fix Pak Djarot yang diajukan. Nah, tadi
sudah diputuskan Pak Djarot untuk jadi pendamping Pak Ahok," kata Boy di
Balakota DKI Jakarta yang didampingi Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio
Edi Marsudi.
Tentu saja, penunjukkan Djarot sebagai cawagub
membuat Ahok merasa lega. Sebab ini sesuai harapannya. Bahkan Mantan
Bupati Belitung Timur itu mengaku jika memilih antara dia dengan Sarwo
Handayani, ia akan memilih Djarot.
"Kalau diusulkan dari PDIP
siapa, tinggal saya bandingkan dengan Bu Yani (Sarwo). Lalu tinggal saya
pilih. Pokoknya kalau dikasih Pak Djarot, saya lebih cenderung pilih
Pak Djarot," tegas Ahok.
Pascapenetapan tersebut, Ahok akan
langsung mengajukan nama Djarot kepada Menteri Dalam Negeri (Mendagri)
Tjahjo Kumolo yang kemudian akan diteruskan kepada Presiden Jokowi.
"Hari ini akan kita jalani (kirim surat pengajuan pada Mendagri)," tukas Ahok.
Djarot di Mata Ahok
Tentu
ada alasan kuat bagi Ahok hingga kepincut dengan pria kelahiran 59
tahun lalu itu. Di mata Ahok, sosok Djarot memiliki kesamaan dengan
mantan atasannya yang kini menjadi Presiden RI, Joko Widodo.
"Saya pikir Pak Djarot gayanya kayak Pak Jokowi, santai. Saya kira di Blitar, dia cuma pakai jeans kaos," bebernya.
Selain
itu, lanjut dia, ada segudang prestasi yang diraih Djarot selama
menjabat walikota Blitar 2 periode. Memimpin dari tahun 2000 hingga
2010, dia berhasil menata 1.000 pedagang kaki lima (PKL) dan menekan
pembangunan mal atau gedung pencakar langit di daerahnya.
Selain
itu, Djarot juga memperoleh Penghargaan Komite Pemantauan Pelaksanaan
Otonomi Daerah 2008. Begitu juga dengan Piala Adipura selama 3 tahun
berturut-turut, 2006, 2007, dan 2008. "Juga dapat penghargaan dari
Majalah Tempo sebagai kepala daerah terbaik se-Indonesia," imbuh Ahok.
Djarot
yang saat ini menjadi anggota DPR ini pun mengaku siap menjadi wagub
bila diminta oleh partainya. Ketua DPP PDI Perjuangan itu pun mengaku
dirinya tak akan ragu mengemban tugas tersebut bila Ahok memilihnya.
"Jangan
bilang siap atau tidak siap, untuk republik ini saya siap, jangankan
wagub, untuk presiden saja saya siap. Sebagai warga bangsa ditugaskan
apa pun ya harus siap," ujar Djarot beberapa hari lalu.
Djarot mengaku mempunyai kemampuan yang cukup mumpuni sebagai wagub untuk Ahok. Ia pun menyebut beberapa prestasi yang pernah diraih saat menjabat sebagai Walikota Blitar selama 2 periode pada 2000-2005 dan 2005-2010.
"10
Tahun ketika di Blitar tidak ada satu pun pegawai saya yang masuk
penjara, dan di bawah kepemimpinan saya, indeks pembangunan manusia Kota
Blitar, jadi yang tertinggi di Jawa Timur dan ke-3 se-Indonesia," papar
pria yang juga dosen Universitas 17 Agustus 1945, Surabaya ini.
Djarot
menegaskan, dirinya akan segera menyiapkan hal-hal yang diperlukan
mengingat tenggat waktu penyerahan nama cawagub kepada Presiden Jokowi
kian mepet. Berdasar Perppu Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Kepada
Daerah, penyerahan nama itu paling lambat 6 Desember 2014.
Jika
itu semua telah selesai, lanjut dia, maka sebelum 20 Desember 2014 ia
sudah resmi menyandang predikat sebagai wakil gubernur DKI. "Resmi Wakil
Gubernur DKI, kalau keputusan Presiden (Jokowi) segera," ucapnya saat
di salah satu stasiun televisi swasta.
Lantas apa program Djarot
dalam membenahi karut marut Ibukota? Dia mengaku berdiskusi dengan Ahok
untuk membahas hal tersebut. Di antara program itu ialah mewujudkan
Kampung Deret yang sudah dicanangkan oleh gubernur sebelumnya.
"Saya
kemarin diskusi soal ini dengan Pak Ahok. Dia bilang Pak Djarot tolong
wujudkan Kampung Deret program dari Jokowi. Kita akan wujudkan kampung
deret di beberapa kawasan padat," ungkap dia.
Terkait macet dan
banjir yang menjadi langganan di sejumlah kawasan di Ibukota, Djarot
mengaku akan melakukan komunikasi intensif dengan sejumlah pihak. Di
antaranya pemerintah pusat dan pemerintah penyangga Ibukota.
"Masalah
banjir, macet sebetulnya bukan akar masalah. Kita harus cari akar
masalah mengapa itu bisa terjadi. Banjir tidak hanya bisa dikerjakan
oleh Pemprov DKI saja. Tapi harus sinergi antara Pemprov dengan Pusat.
Koordinasi yang baik dengan Pemprov Jabar dan Banten," terang Djarot.
Awal Jumpa
Ahok mengaku sosok Djarot bukan asing bagi dirinya. Ia mengaku kenal dengan Djarot saat masih bersama-sama berstatus sebagai kepala daerah
di tingkat kabupaten kota. Saat itu, Ahok masih menjabat sebagai Bupati
Belitung Timur sedangkan Djarot menjadi Walikota Blitar.
"Aku
kenal baik dia sejak 2006, saat itu masih sama-sama di daerah," ujar
Ahok di Balaikota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu
(3/12/2014).
Ahok bahkan menganggap, melihat kiprah Djarot 10
tahun memimpin Blitar. Menurutnya sosok pria berkumis itu lebih
berpengalaman dan ahli dibanding dirinya bahkan Jokowi dalam bidang
penataan kota.
Setelah Jokowi memutuskan maju sebagai presiden,
Ahok mulai membuka pembicaraan dengan Djarot. Ia meminta ketua DPP PDIP
itu menjadi wakil gubernur DKI bila dirinya harus naik pangkat menjadi
gubernur DKI seandainya Jokowi menang Pilpres.
"Khawatirnya
nanti kalau Pak Jokowi jadi presiden kan pasti berhenti. Jadi saya pikir
yang cocok mirip-mirip Pak Jokowi siapa? Ya Djarot menurut saya," ucap
Ahok.
Namun saat itu, gayung belum bersambut. Djarot yang
merupakan kader PDIP belum bisa menjawab 'pinangan' Ahok. Kepada Ahok,
Djarot saat itu mengaku tidak bisa memutuskan karena dirinya terikat
aturan partai. Djarot mengaku tidak berani ambil risiko dan melanggar
mekanisme partainya.
Setelah mendapatkan lampu hijau untuk
menggaet Djarot sebagai Wagub, Ahok mengaku lega. Walau tak berpartai,
Ahok merasa mendapatkan dukungan sangat kuat untuk menjalan tugas
memimpin ibukota.
Pasalnya, Ahok akan dibantu dan didampingi
wakil berpengalaman. Kemudian dalam menjalankan percepatan pembangunan
kota Jakarta, dia telah didampingi anggota Tim Gubernur Untuk Percepatan
Pembangunan (TGUPP) Sarwo Handayani atau Yani.
Sedangkan dalam
hubungan politik, ia mendapatkan dukungan dari Ketua DPD PDIP DKI Boy
Bernadi Sadikin dan dukungan dari ketua DPRD DKI Prasetio Edi Marsudi
yang merupakan kader PDIP DKI Jakarta.
"Saya dapat semuanya.
Saya senang sekali. Dalam menjalankan roda pemerintah daerah, saya
didampingi Pak Djarot dan Bu Yani. Lalu di dunia politiknya, saya
dibantu Pak Boy di DPD dan di DPRD dibantu Pak Prasetyo. Buat saya ini
untung banget. Semua saya dapatkan untuk memudahkan membangun Jakarta,"
ucap Ahok.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

Post a Comment